Sabtu, 25 September 2021

Tradisi Nyadran Bakal Dibiayai Pemerintah

 

Pelaksanaan musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) di tingkat Kecamatan Manguharjo berlangsung lancar dan tertib. Pasalnya, acara tersebut hanya merekap usulan warga sebelumnya dalam Musrenbang di tingkat kelurahan atau Musrenbangkel.

Sekretaris Kecamatan Manguharjo, Teguh Sudaryanto, mengatakan salah satu usulan warga yang bakal diperjuangkan ke kota ialah soal tradisi bersih desa. Menurut Teguh, tradisi bersih desa yang sudah menjadi agenda tahunan di masing-masing desa selama ini harus diperhatikan Pemkot agar tetap lestari.

“Nah salah satu perhatian yang diberikan ialah dengan membiayai acara tradisi bersih desa itu. Selama ini, tradisi bersih desa memakai dana swadaya masyarakat,” paparnya saat ditemui Madiunpos.com seusai mengikuti acara Musrenbangcam di Aula Kantor Kecamatan Manguharjo, Kamis (22/1/2015).

Teguh menjelaskan, bentuk tradisi bersih desa di Kota Madiun bermacam-macam. Ada yang menggelar wayang kulit, ada yang pengajian, kendurian, dan lain-lain. Menurutnya, jika acara tersebut dikelola secara baik, akan menjadi objek wisata religi atau budaya.

“Seperti di daerah lain itu. Tradisi yang dikelola secara baik akan menjadi daya tarik wisata,” terangnya.

Tradisi bersih desa ini juga kerap dikenal dengan istilah nyadran, yakni serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Ada juga yang mengartikan nyadran sebuah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan.

Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan.

Sumber : https://www.solopos.com/



Share:

Tradisi Megengan Menjelang Ramadhan

 


Dalam menyambut Ramadhan setiap daerah memiliki cara sendiri-sendiri. Salah satunya di Kota Madiun, Jawa Timur.

Tradisi “ Megengan “ sudah biasa dilakukan di oleh warga setempat dalam menyambut bulan suci Ramadhan

Tradisi "Megengan" adalah tradisi berupa kenduri dan menukar berkat makanan sebagai tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang rencananya dimulai pada 13 April 2021.

Untuk pelaksanaan Kenduri atau selamatan "Megengan" dilakukan selepas isya di masing-masing masjid ataupun mushalla yang ada di setiap rukun tetangga (RT) yang tersebar di seluruh Kota Madiun.

"'Megengan' ini merupakan tradisi jelang bulan Ramadhan. Dalam 'Megengan' itu, selain melantunkan bacaan ayat-ayat suci Al Quran, juga menukarkan berkat makanan yang dibawa oleh masing-masing kepala keluarga," ujar Takmir Mushalla Al-Amin di RT 09/RW 03 Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, Sasomo, di Madiun, Minggu 11 April 2021 seperti dikutip dari ANTARA.

Dia mengatakan umumnya "Megengan" dilakukan beberapa hari sebelum Ramadhan. Berkat makanan yang dibawa masing-masing keluarga bervariasi sesuai dengan kemampuan. Namun, jika menurut tradisi, "Megengan" identik dengan jajanan atau kue apem.

Sayangnya, seiring kemajuan zaman, kue apem sudah jarang yang membuatnya sehingga makanan jenis apa saja bisa untuk "Megengan".

"Yang terpenting adalah niatnya," katanya.

Tujuan "Megengan", katanya, bersyukur atas berkah bulan Ramadhan yang suci dan mohon lindungan Allah SWT untuk lancar dalam menjalankan ibadah puasa dan semua urusan keluarga. Hal itu wujud dari hubungan manusia dengan Tuhan atau "hablum minallaah".

Selain itu, katanya, wujud mempererat hubungan silaturahim antara sesama umat manusia atau "hablum minannas".

Di samping "Megengan", tradisi lain menjelang Ramadhan yang masih lestari di Kota Madiun adalah ziarah kubur ke makam leluhur.

Saat berziarah, warga membawa bunga mawar untuk ditabur di pusara. Makam-makam leluhur juga dibersihkan dari rerumputan dan dedaunan.

Tujuan ziarah makam tersebut mendoakan keluarga yang sudah meninggal agar diberi ketenangan dan diampuni segala dosanya oleh Allah SWT.

Permohonan maaf tersebut intensif dilakukan di Bulan Suci Ramadhan yang diyakini sebagai bulan penuh dengan ampunan.

Sumber : https://lensapurbalingga.pikiran-rakyat.com/

Share:

PSHT PSHW Sepakat Tiadakan Kegiatan Suro Agung

 

Dua Perguruan Pencak Silat terbesar di Madiun, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun dan Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW) Tunas Muda sepakat tidak mengadakan kegiatan Suro-Suran Agung menyambut 1 Muharram 1443 Hijriyah. Ini sebagai bentuk keprihatinan bersama di situasi pandemi, sekaligus dukungan terhadap pemerintah dalam rangka memutus penyebaran covid-19.

Kesepakatan itu disampaikan Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, R. Moerdjoko H.W dan Ketua Umum  PSHW Tunas Muda Madiun, R. Agus Wiyono Santoso dalam pertemuannya bersama Kapolres Madiun Kota di Mapolresta Madiun, Senin (2/8/2021). Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, Moerdjoko mengatakan, jika biasanya menyambut 1 Suro, ada tradisi ‘nyekar’ atau ziarah makam ke pendiri atau para leluhur PSHT, tahun ini ditiadakan. Pihaknya akan membuat surat edaran untuk dipedomani bersama.

“Jadi tahun ini untuk kegiatan Suran, karena masih dalam situasi pandemi covid-19, maka untuk malam 1 Muharraham, atau 1 Suro tidak ada kegiatan ziarah atau nyekar. Kegiatannya diganti tirakatan di wilayah masing-masing. Apakah itu di cabang, ranting maupun rayon dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Termasuk pesertanya juga dibatasi sesuai prokes,” ungkapnya.

Senada juga disampaikan Ketua Umum PSHW Tunas Muda, R. Agus Wiyono Santoso atau yang akrab disapa Mas Win. Dirinya juga akan membuatkan surat edaran terkait peniadaan kegiatan Suran Agung di masa pandemi covid-19.

“Untuk kegiatan selama bulan Suro, memang seperti tahun kemarin. Yang jelas selama masih pandemi dalam hal kegiatan Suran Agung ditiadakan. Kepada saudara-saudaraku se asuhan dimanapun berada agar tidak berkerumun, tidak melakukan mobilisasi dan harus patuhi dan ikuti prokes yang menjadi aturan dari pemerintah untuk memutus penyebaran covid-19,” ucapnya.

Sementara itu Kapolres Madiun Kota, AKBP Dewa Putu Eka Darmawan menyatakan, pihaknya mengapresiasi komitmen perguruan pencak silat yang tahun ini meniadakan pelaksanaan kegiatan Suro dan Suran Agung. Ia pun mengajak seluruh pendekar untuk bersama-sama melawan covid-19 dengan disiplin prokes dan mematuhi aturan yang ada.

“Ketua Umum PSHT dan Ketua Umum PSHW Tunas Muda berkenan memberikan himbauan kepada warganya masing-masing untuk tidak melaksanakan kegiatan di 1 Muharram atau Suro nanti. Itu adalah sebuah dukungan bagi kami untuk bersama-sama menjaga bagaimana prokes ini dikedepankan dan tujuannya adalah Indonesia terbebas dari covid-19,” terangnya.

Untuk mekanisme pengamanan dan jumlah personel yang diterjunkan untuk menjaga Kamtibmas pada Suro nanti, pihaknya akan berkoordinasi dengan aparat kepolisian lintas kabupaten/kota karena merupakan kalender kamtibmas khusus yang harus disepakati bersama.

Sumber : https://rri.co.id/

Share:

Tradisi Suro Agung Dilakukan Dengan Bagi Masker

 


Tradisi merayakan 1 Suro yang biasa dilakukan oleh para pendekar di Kota Madiun pada tahun ini tidak akan sama seperti tahun – tahun sebelumnya. Perayaan tahun ini lebih difokuskan pada upaya penanggulangan covid-19.

Hal ini dipertegas dalam Rapat Koordinasi Perayaan Suran dan Suran Agung di Sun City pada Kamis (13/08/2020). Dalam rapat tersebut juga dihadiri oleh masing-masing sesepuh perguruan silat.

Walikota Madiun, Maidi mengatakan bahwa Kota Madiun merupakan central Bakorwil I Jawa Timur. Sehingga salah satu kegiatan khusus di Kota Madiun yakni Suran dan Suran Agung harus melalui Pendekar Waras.

Dirinya mengambil kebijakan setelah mendapatkan instruksi Presiden terkait Jatim Bermasker perlu ditindak lanjuti. Rencananya dalam bulan Suro nanti, seluruh pendekar di Kota Madiun akan membagikan masker sebagai kegiatan mengisi perayaan Suro dan Suran Agung.

“Jika Dari Jatim menginginkan 2000 masker, kita siapkan 3000 masker.
Kita tunjukkan pada nasional dan internasional baik PSHT dan PSHW adalah yang terbaik untuk dunia. Harapannya adalah penampilan Kota Pendekar berbeda antara dulu dan sekarang,” katanya.

Maidi menegaskan agar setiap pendekar dapat mengharumkan Kota Madiun dengan kegiatan positif. “Kegiatan positif tidak akan merepotkan TNI dan Polri. Saya itu malu setiap Suro Kota Madiun mencekam. Sampai-sampai Kapolda dan Panglima Kodam turun ke Madiun,” jelas Maidi dalam rapat tersebut.

Ini karena dari semua pihak baik TNI dan Polri sudah bekerja keras dalam pembagian masker dengan tidak mengenal waktu, siang malam. Dia akan memberi sanksi kepada Pendekar yang tidak taat protokol kesehatan.

Hal senada diutarakan oleh Danrem 081 DSJ, Waris Ari Nugroho yang menyatakan bahwa sampai saat ini masih banyak masyarakat terpapar Covid-19.

Lebih lanjut dia menandaskan bahwa apabila Perguruan tetap melakukan kegiatan dan terlebih diiringi keributan, hal itu akan menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu kamtibmas.

“Saya berharap kepada sesepuh dan tokoh perguruan agar bisa mengendalikan karena saya yakin bahwa setiap orang pasti tidak ingin adanya keributan di wilayah masing-masing,” tegasnya.

Dia meminta kerjasama yang baik untuk menghimbau di wilayah masing-masing sehingga tidak terjadi pergerakan masa dalam melaksanakan kegiatan Suroan.

Himbauannya untuk kegiatan selain ziarah dapat melaksanakan baksos, kerja bhakti dalam rangka meningkatkan imun di masyarakat dan melaksanakan MTQ antar perguruan.

Plt. Kepala Bakorwil I Jawa Timur, Benny Sampirwanto berharap agar adanya partisipasi sehingga setiap perguruan pencak silat tidak mengarahkan warganya dari kota lain untuk melakukan pengumpulan makam ke Kota Madiun.

“Guyub rukun merupakan tujuan bersama yang harus dilakukan dengan menjunjung tinggi nilai luhur. Sehingga dapat menciptakan suasana yang aman damai tentram dan kondusif dengan tetap menjalin silaturahmi sesama warga dan stakeholder baik Pemda, TNI dan Polri,” pungkasnya.

Sumber : https://lenteratoday.com/

Share:

Ruwatan Bumi Tradisi Di Desa-Desa


 

Hingga saat ini masyarakat diberbagai desa ada yang masih menjalankan tradisi peninggalan nenek moyangnya yang telah berjalan sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi di maksud adalah berupa upacara Ruwatan Bumi, yaitu ritual manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala yang telah diperoleh dari hasil bumi.

Ruwatan berasal dari kata Ruwat atau ngarawat (bahasa Sunda) yang artinya memelihara atau mengumpulkan. Makna dari mengumpulkan adalah mengajak masyarakat seluruh kampong berkut hasil buminya untuk dikumpulkan, baik yang masih mentah maupun yang sudah jadi atau dalam taraf pengolahan. Tujuannya selain rasa syukur tadi sekaligus sebagai tindakan tolak bala dan penghormatan terhadap para leluhurnya.

Pelaksanaan ruwatan bumi biasanya berlangsung di tanah lapang. Meski masing-masing daerah memiliki ciri sendiri-sendiri, namun pada intinya mereka melakukan ritual keagamaan yang kental dengan peristiwa budaya. Pelaksanaan ruatan bumi ini biasanya akibat terjadinya bencana alam yang menimpa wilayah atau tempat tinggal mereka. Setelah bencana lewat, mereka kemudian melaksanakan ruwatan bumi agar bencana tidak terjadi lagi.

Ruwatan bumi masih dipelihara dan dijalankan dengan sangat khidmat oleh masyarakat setempat susai yang diwariskan orang-orang tua dahulu. Bahkan oleh Pemerintah dijadikan agenda buadaya dan parawisata. Ruwatan bumi di daerah ini memang sangat unik dan menarik karena kekuatan tradisi di masa lalu yang terus terpelihara dengan baik.

Ditengah modernisasi dan arus globalisasi yang sulit untuk dibendung, ruwatan bumi tentu saja menghadapi ancaman menuju kepunahan. Padahal sekitar 20 tahun yang lalu, setiap menjelang bulan Maulud selalu diselengarakan ruwatan bumi. Dengan dipimpin tetua kampong, warga setempat berkumpul di tanah lapang dekat pohoin Binong sambil membawa tumpeng. Forum itu skaligus digunakan untuk bersilaturahmi diantara warga, karena setelah ritual kagamaan selesai seluruh warga bergembiria ria murak tumpeng sambil ngobrol dan bersenda gurau.

Selain akibat modernisasi dan arus globalisasi, dibeberapa tempat disebabkan oleh larangan dan pemahaman agama yang semakin tinggi. Ada diantara daerah yang sama sekali menghentikannya karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Bisa jadi begitu mengingat upacara ruwatan bumi sangat kental dengan dupa dan kemenyan yang oleh sebagian kalangan dinilai berasal dari ajaran Hindu atau Budha.

Apa saja rangkaian pelaksanaan pertistiwa ruwatan bumi ini? dadahut, yaitu persiapan yang dilakukan masyarakat mulai dari pembentukan panitia, musyawarah pelaksanaaan ruwatan bumi, pengumpulan biaya, membuat makanan, membuat pintu hek (pintu gerbang), membuat sawen atau daun janur dari daun kawung. Kegiatan dadahut ini biasanya dilakuan sebulan sebelum pelaksanaan.

Ngadieukeun, yaitu ritual khusus bertempat di goah yang dilakuan ketua adat dengan menyajikan banyak sesajen. Tujuannya meminta ijin kepada Tuhan YME supaya seluruh penduduk dan kampungnya dijauhkan dari musibah. Ketiga Ijab kabul motong munding, yaitu berdoa sekaligus sambutan tetua adat sebelum menyembelih kerbau. Ngalawar, yaitu nyuguh atau menyimpan sesaji di stiap sudut kampung. Ngalawar dimaksudkan untuk menghormati para leluhur masyarakat di daerah itu.

Ngalawar dimulai dengan menyimpan sesaji di tengah-tengah kampung. Kemudian dilanjutkan di keempat sudut kampung. Sesaji atau sesajen untuk ngalawar ini dibungkus dalam ukuran kecil yang di dalamnya terdapat aneka makanan yang terbuat dari beras.

Salawatan, yaitu mengucap puji-pujian kepada Allah SWT dan Rosulnya di mesjid-mesjid. Sholawatan dimulai setelah maghrib sampai menjelang Isya. Pertunjukan seni gembyung yang dilaksanakan pada malam hari. Numbal, yairtu upacara sakral dengan mengubur sesaji dan makanan yang terbuat dari beras. Tujuan numbal adalah mangurip bumi munar leuwih, artinya hasil bumi dan segala hal yang dilakukan penduduk kampung bisa bermanfaat.

Bahan untuk numbal antara lain kelapa hijau, seupahun, telur, gula merah, rempah-rempah, ayam kampung, pisang, tebu, jawer kotok. Prosesinya, setelah ritual kagamaan dilanjutkan dengan menyembelih ayam kampung. Ayam tersebut dipotong-potong untuk disimpan dalam lubang tertentu yang telah digali. Berikutnya adalah menanam pohon pisang, tebu, jawer kotok dan hanjuang yang disiram air beras.

Helaran, yaitu iring-iringan masyarakat dimulai dari tempat pelaksanaan ruwatan menuju situs makam leluhur. Dalam helaran ini ikut memeriahkan seni beluk, pembawa parukuyan, kuda kosong, pini sepuh, usungan dongdang, seni dogdog, saung sangar, usung tumpeng, dongdang makanan, seni Rengkong dan tari-tarian pembawa kerajinan.

Sawer, yaitu melantunkan syair buhun. Sawer berisi puji-pujian terhadap sang pncipta, para leluhur dan Nyai Pohaci atau Dwi Sri. Kesepuluh Ijab Rosul, yaitu ritual untuk menutup pelaksanaan ruwatan bumi yang dipimpin tetua adat. Setelah acara sacral biasanya dilanjutan hiburan wayang golek atau kesenian lain yang bernuansa Islam.


Sumber : https://www.kompasiana.com/





Share:

Strategi Pemkot Madiun Kembangkan UMKM

 


Pertumbuhan UMKM Kota Madiun Jawa Timur terbilang signifikan dalam setahun terakhir. Tercatat ada 23 ribu pelaku UMKM mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah tersebar di 27 Kelurahan di 3 Kecamatan yakni Kartoharjo, Taman dan Manguharjo.
Berbagai langkahpun dilakukan Pemerintah Kota Madiun untuk menumbuhkan sekitar 23 ribu pelaku UMKM di Kota pecel yang saat ini juga memiliki sebutan kota pendekar.

"Ini memang salah satu program dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis UMKM. Dalam hal ini langsung kita respon cepat dan Alhamdulillah sudah ada 23 ribu pelaku UMKM dalam binaan kita," terang Walikota Madiun Maidi, saat sela mengunjungi UMKM di taman Bantaran Kali Jalan Ahmad Yani, Jumat (21/2/2020).

Dalam menumbuhkan 23 ribu UMKM tersebut, kata Maidi, terdapat tiga langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Madiun. Ketiga langkah itu, lanjut Maidi, mulai fasilitasi permodalan, pembinaan, hingga pemasarannya.

"Untuk menumbuhkan sekitar 23 ribu pelaku UMKM kita punya tiga langkah, mulai fasilitasi permodalan, pembinaan, hingga pemasarannya," kata Maidi.

Maidi menyebutkan, untuk bidang permodalan, Pemkot Madiun telah menggelontorkan Rp 12 miliar untuk program kredit murah. Program kredit dengan bunga murah itu melalui Bank Daerah dengan suku bunga hanya 0,5 persen sebulan.

"Kita gelontorkan dana Rp 12 miliar dengan bunga murah, hanya enam persen setahun. Dana yang digelontorkan itu sejak 2014 dan sudah terserap sepenuhnya," sebutnya

Dia menambahkan, dana kredit dengan bunga murah itu tidak hanya untuk pelaku UMKM, namun juga untuk pertanian dan perdagangan. Harapannya, pelaku usaha kecil ini semakin berkembang. "Program kredit ini bukan hanya bunga pinjam yang murah. Namun, juga bebas biaya jasa dan administrasi. Menariknya, kredit murah tanpa batas plafon," tandasnya.

"Permasalahan modal memang menjadi kendala tersendiri bagi pelaku usaha. Karena, tak jarang yang gulung tikar. Pemerintah harus hadir di dalamnya," imbuh Maidi.

Pembinaan dan Pemasaran UMKM

Sementara Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Koperasi dan Usaha Mikro (DPMPTSP KUM) Kota Madiun Harum Kusumawati menuturkan, selain fasilitasi permodalan ada dua langkah Pemkot Madiun untuk mengembangkan pelaku UMKM. Dua langkah lain yakni pembinaan, hingga pemasaran produk dari para pelaku UMKM.

"Untuk pembinaan juga tak kurang diberikan. Pemkot Madiun sengaja menggandeng Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI dalam memberikan pendampingan pelaku UMKM. Selain itu juga ada pameran dan pelatihan yang digelar rutin. Namun, perhatian tentu belum cukup hanya dengan memberikan pelatihan," ucap Harum.

Dikatakan oleh Harum, Pemkot juga memberikan tempat pemasaran yang memadai. Salah satunya, Sunday Market di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun sejak pertengahan 2019 lalu. Program ini dikhususkan untuk menampung produk-produk UMKM dalam satu tempat yang bertujuan agar mudah diakses masyarakat.

Hal tersebut juga sebagai salah satu destinasi wisata. Pemerintah juga akan membangun sentra kuliner dan lorong seni pada 2020 ini. "Pelaku UMKM memang harus diberi tempat. Pemerintah juga akan menggelar banyak event. Kalau banyak yang datang UMKM juga akan berdaya. Yang rutin setiap Minggu ada Sunday Market," ungkapnya.

Pertumbuhan Pesat Ekonomi Kota Madiun

Seiring berkembangnya dengan pesat pelaku UMKM di Kota Madiun yang telah berusia 101 tahun, Walikota Madiun Maidi menyebut upaya Pemerintah Kota Madiun, sejalan dengan program Gubernur Jawa Timur melalui Jatim Berdaya dalam Nawa Bhakti Satya.

"Kalau di Kota Madiun ada Panca Karya. Ini sudah saya selaraskan dengan Nawa Bhakti Satya dan Nawa Cita di tingkat pusat. Salah satu misinya, Madiun Kota Peduli," papar Maidi.

Maidi mengaku, program tersebut, Pemerintah Kota Madiun juga membuat konsen mengembangkan UMKM untuk menguatkan perekonomian masyarakat. Apalagi, UMKM merupakan salah satu penyokong perekonomian secara nasional.

"Selain fasilitasi permodalan, pembinaan, dan pemasaran, Pemkot menggandeng pengusaha besar. Produk UMKM sudah lazim terpajang di galeri mall. Produk secara bergantian untuk sama-sama memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM," tandasnya.

Walikota juga mewajibkan minimarket membantu pelaku UMKM, mulai memberikan gerobak dan tempat berjualan di halaman minimarket. ''Kedatangan investor harus memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya pelaku usaha yang lebih kecil. Seperti program penghapusan retribusi bagi PKL,'' jelasnya.

Upaya itu cukup membuahkan hasil. Program dan kebijakan terbukti efektif menumbuhkan perekonomian di Kota Pendekar. Pertumbuhan ekonomi Kota Madiun mencapai 6,02 persen pada 2018 lalu. Besaran itu naik 0,06 persen dibanding laju ekonomi tahun sebelumnya.

"Perdagangan dan jasa menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Kota Madiun. Rinciannya, jasa transportasi dan pergudangan tercatat yang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 8,18 persen. Industri pengolahan berada di nomor kedua dengan 8,00 persen. Sedang, penyedian akomodasi dan makan minum penyumbang ketiga dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,47 persen," jelas Maidi.

"Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat. Tak heran menjadi perhatian pemerintah. Kita bebaskan semua retribusi bagi UMKM dan PKL. Dari investor McD perbulan saja Rp 300 juta," pungkasnya.


Share:

Ini Dia Anak Perusahaan PT INKA

PT INKA (Persero) mendirikan dua anak perusahaan yaitu PT INKA Multi Solusi dan PT Rekaindo Global Jasa

PT INKA Multi Solusi merupakan anak perusahaan PT INKA (Persero) yang menyediakan jasa “Total Solution Provider” di bidang konstruksi dan perdagangan komponen/suku cadang perkeretaapian dan produk transportasi darat yang beralamat di Jalan Surabaya-Madiun KM 161 Nomor 1 Madiun, Jawa Timur.  PT INKA Multi Solusi berdiri pada 23 Desember 2009 dengan nama PT Railindo Global Karya. Pada 28 November 2014,  PT INKA (Persero) mengakusisi saham dan perseroan berganti nama menjadi PT INKA Multi Solusi. Pergantian Nama tersebut dituangkan dalam Akta Notaris Iswi Artati, S.H., Nomor 21 tanggal 18 Februari 2015 dan disahkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0003053.AH.01.02.TAHUN 2015 tanggal 26 Februari 2015.

Kepemilikan Saham PT INKA (Persero) 99,86% dan sisanya Yayasan Keluarga Besar INKA sebesar 0,14%. Kompetensi bisnis yang dimiliki yaitu perdagangan komponen gerbong kereta api, jasa penunjang kereta, jasa fabrikasi, jasa pemasangan, jasa rekayasa (engineering), membuat desain dan melakukan perawatan produk di bidang perkeretaapian serta penyedia jasa tenaga kerja/buruh. Dengan susunan Dewan Komisaris dan Direksi adalah sebagai berikut :

Dewan Komisaris
Komisaris Utama  :  Haris Munandar
Komisaris:  Andi Budiman


  Bimo Wijayanto


  Dadan Tri Yudianto






Direksi

Direktur Utama  :  Ketut Astika
Direktur Keuangan & SDM  :  Heru Sulistiyo
Direktur Produksi  :  Agung Budiono
Direktur Teknologi:  Tri Hardono


PT Rekaindo Global Jasa berdiri sejak 1998, berdasarkan Akta Notaris Sutjipto, SH No. 61 tanggal 25 November 1998. Status beroperasi mulai tahun 1999. Kepemilikan Saham : PT INKA (Persero) 49 %, Nippon Sharyo 39 %, Sumitomo Corporation 10 %, dan sisanya dimiliki oleh Kopinka sebesar 2%. Alamat kantor di Jalan Sumber Karya No. 2 Madiun, Jawa Timur. Kompetensi bisnis yang dimiliki yaitu di bidang jasa konsultan engineering, desain, dan maintenance perkeretaapian. Dengan susunan Dewan Komisaris dan Direksi di tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Dewan Komisaris
Komisaris Utama:  Jepri
Komisaris:  I Gede Agus Prayatna


  Masato Yamada



Direksi

Direktur Utama:  M. Fatoni
Direktur Keuangan & SDM:  A. Wishnudartha Pagehgiri
Komisaris Direktur Teknologi Operasi     :  Bambang Jatmika
Direktur:  Yuji Kani


  Michitaka Kojiro


  Eita Fujikawa
Sumber : https://www.inka.co.id/


 

Share:

Label

Pengikut