Tampilkan postingan dengan label industri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 September 2021

Strategi Pemkot Madiun Kembangkan UMKM

 


Pertumbuhan UMKM Kota Madiun Jawa Timur terbilang signifikan dalam setahun terakhir. Tercatat ada 23 ribu pelaku UMKM mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah tersebar di 27 Kelurahan di 3 Kecamatan yakni Kartoharjo, Taman dan Manguharjo.
Berbagai langkahpun dilakukan Pemerintah Kota Madiun untuk menumbuhkan sekitar 23 ribu pelaku UMKM di Kota pecel yang saat ini juga memiliki sebutan kota pendekar.

"Ini memang salah satu program dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis UMKM. Dalam hal ini langsung kita respon cepat dan Alhamdulillah sudah ada 23 ribu pelaku UMKM dalam binaan kita," terang Walikota Madiun Maidi, saat sela mengunjungi UMKM di taman Bantaran Kali Jalan Ahmad Yani, Jumat (21/2/2020).

Dalam menumbuhkan 23 ribu UMKM tersebut, kata Maidi, terdapat tiga langkah yang dilakukan Pemerintah Kota Madiun. Ketiga langkah itu, lanjut Maidi, mulai fasilitasi permodalan, pembinaan, hingga pemasarannya.

"Untuk menumbuhkan sekitar 23 ribu pelaku UMKM kita punya tiga langkah, mulai fasilitasi permodalan, pembinaan, hingga pemasarannya," kata Maidi.

Maidi menyebutkan, untuk bidang permodalan, Pemkot Madiun telah menggelontorkan Rp 12 miliar untuk program kredit murah. Program kredit dengan bunga murah itu melalui Bank Daerah dengan suku bunga hanya 0,5 persen sebulan.

"Kita gelontorkan dana Rp 12 miliar dengan bunga murah, hanya enam persen setahun. Dana yang digelontorkan itu sejak 2014 dan sudah terserap sepenuhnya," sebutnya

Dia menambahkan, dana kredit dengan bunga murah itu tidak hanya untuk pelaku UMKM, namun juga untuk pertanian dan perdagangan. Harapannya, pelaku usaha kecil ini semakin berkembang. "Program kredit ini bukan hanya bunga pinjam yang murah. Namun, juga bebas biaya jasa dan administrasi. Menariknya, kredit murah tanpa batas plafon," tandasnya.

"Permasalahan modal memang menjadi kendala tersendiri bagi pelaku usaha. Karena, tak jarang yang gulung tikar. Pemerintah harus hadir di dalamnya," imbuh Maidi.

Pembinaan dan Pemasaran UMKM

Sementara Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Koperasi dan Usaha Mikro (DPMPTSP KUM) Kota Madiun Harum Kusumawati menuturkan, selain fasilitasi permodalan ada dua langkah Pemkot Madiun untuk mengembangkan pelaku UMKM. Dua langkah lain yakni pembinaan, hingga pemasaran produk dari para pelaku UMKM.

"Untuk pembinaan juga tak kurang diberikan. Pemkot Madiun sengaja menggandeng Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI dalam memberikan pendampingan pelaku UMKM. Selain itu juga ada pameran dan pelatihan yang digelar rutin. Namun, perhatian tentu belum cukup hanya dengan memberikan pelatihan," ucap Harum.

Dikatakan oleh Harum, Pemkot juga memberikan tempat pemasaran yang memadai. Salah satunya, Sunday Market di Taman Lalu Lintas Bantaran Kali Madiun sejak pertengahan 2019 lalu. Program ini dikhususkan untuk menampung produk-produk UMKM dalam satu tempat yang bertujuan agar mudah diakses masyarakat.

Hal tersebut juga sebagai salah satu destinasi wisata. Pemerintah juga akan membangun sentra kuliner dan lorong seni pada 2020 ini. "Pelaku UMKM memang harus diberi tempat. Pemerintah juga akan menggelar banyak event. Kalau banyak yang datang UMKM juga akan berdaya. Yang rutin setiap Minggu ada Sunday Market," ungkapnya.

Pertumbuhan Pesat Ekonomi Kota Madiun

Seiring berkembangnya dengan pesat pelaku UMKM di Kota Madiun yang telah berusia 101 tahun, Walikota Madiun Maidi menyebut upaya Pemerintah Kota Madiun, sejalan dengan program Gubernur Jawa Timur melalui Jatim Berdaya dalam Nawa Bhakti Satya.

"Kalau di Kota Madiun ada Panca Karya. Ini sudah saya selaraskan dengan Nawa Bhakti Satya dan Nawa Cita di tingkat pusat. Salah satu misinya, Madiun Kota Peduli," papar Maidi.

Maidi mengaku, program tersebut, Pemerintah Kota Madiun juga membuat konsen mengembangkan UMKM untuk menguatkan perekonomian masyarakat. Apalagi, UMKM merupakan salah satu penyokong perekonomian secara nasional.

"Selain fasilitasi permodalan, pembinaan, dan pemasaran, Pemkot menggandeng pengusaha besar. Produk UMKM sudah lazim terpajang di galeri mall. Produk secara bergantian untuk sama-sama memberikan kesempatan kepada pelaku UMKM," tandasnya.

Walikota juga mewajibkan minimarket membantu pelaku UMKM, mulai memberikan gerobak dan tempat berjualan di halaman minimarket. ''Kedatangan investor harus memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya pelaku usaha yang lebih kecil. Seperti program penghapusan retribusi bagi PKL,'' jelasnya.

Upaya itu cukup membuahkan hasil. Program dan kebijakan terbukti efektif menumbuhkan perekonomian di Kota Pendekar. Pertumbuhan ekonomi Kota Madiun mencapai 6,02 persen pada 2018 lalu. Besaran itu naik 0,06 persen dibanding laju ekonomi tahun sebelumnya.

"Perdagangan dan jasa menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Kota Madiun. Rinciannya, jasa transportasi dan pergudangan tercatat yang tertinggi dengan pertumbuhan mencapai 8,18 persen. Industri pengolahan berada di nomor kedua dengan 8,00 persen. Sedang, penyedian akomodasi dan makan minum penyumbang ketiga dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,47 persen," jelas Maidi.

"Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator kesejahteraan masyarakat. Tak heran menjadi perhatian pemerintah. Kita bebaskan semua retribusi bagi UMKM dan PKL. Dari investor McD perbulan saja Rp 300 juta," pungkasnya.


Share:

Ini Dia Anak Perusahaan PT INKA

PT INKA (Persero) mendirikan dua anak perusahaan yaitu PT INKA Multi Solusi dan PT Rekaindo Global Jasa

PT INKA Multi Solusi merupakan anak perusahaan PT INKA (Persero) yang menyediakan jasa “Total Solution Provider” di bidang konstruksi dan perdagangan komponen/suku cadang perkeretaapian dan produk transportasi darat yang beralamat di Jalan Surabaya-Madiun KM 161 Nomor 1 Madiun, Jawa Timur.  PT INKA Multi Solusi berdiri pada 23 Desember 2009 dengan nama PT Railindo Global Karya. Pada 28 November 2014,  PT INKA (Persero) mengakusisi saham dan perseroan berganti nama menjadi PT INKA Multi Solusi. Pergantian Nama tersebut dituangkan dalam Akta Notaris Iswi Artati, S.H., Nomor 21 tanggal 18 Februari 2015 dan disahkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0003053.AH.01.02.TAHUN 2015 tanggal 26 Februari 2015.

Kepemilikan Saham PT INKA (Persero) 99,86% dan sisanya Yayasan Keluarga Besar INKA sebesar 0,14%. Kompetensi bisnis yang dimiliki yaitu perdagangan komponen gerbong kereta api, jasa penunjang kereta, jasa fabrikasi, jasa pemasangan, jasa rekayasa (engineering), membuat desain dan melakukan perawatan produk di bidang perkeretaapian serta penyedia jasa tenaga kerja/buruh. Dengan susunan Dewan Komisaris dan Direksi adalah sebagai berikut :

Dewan Komisaris
Komisaris Utama  :  Haris Munandar
Komisaris:  Andi Budiman


  Bimo Wijayanto


  Dadan Tri Yudianto






Direksi

Direktur Utama  :  Ketut Astika
Direktur Keuangan & SDM  :  Heru Sulistiyo
Direktur Produksi  :  Agung Budiono
Direktur Teknologi:  Tri Hardono


PT Rekaindo Global Jasa berdiri sejak 1998, berdasarkan Akta Notaris Sutjipto, SH No. 61 tanggal 25 November 1998. Status beroperasi mulai tahun 1999. Kepemilikan Saham : PT INKA (Persero) 49 %, Nippon Sharyo 39 %, Sumitomo Corporation 10 %, dan sisanya dimiliki oleh Kopinka sebesar 2%. Alamat kantor di Jalan Sumber Karya No. 2 Madiun, Jawa Timur. Kompetensi bisnis yang dimiliki yaitu di bidang jasa konsultan engineering, desain, dan maintenance perkeretaapian. Dengan susunan Dewan Komisaris dan Direksi di tahun 2015 adalah sebagai berikut :

Dewan Komisaris
Komisaris Utama:  Jepri
Komisaris:  I Gede Agus Prayatna


  Masato Yamada



Direksi

Direktur Utama:  M. Fatoni
Direktur Keuangan & SDM:  A. Wishnudartha Pagehgiri
Komisaris Direktur Teknologi Operasi     :  Bambang Jatmika
Direktur:  Yuji Kani


  Michitaka Kojiro


  Eita Fujikawa
Sumber : https://www.inka.co.id/


 

Share:

Gus Ipul Kunjungi Pabrik Sepatu Di Madiun

 


Usai mengunjungi sentra pembuatan makanan khas brem, Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga bersafari ke perusahaan pembuatan sepatu perempuan di PT Karya Mitra Budi Sentosa, Caruban, Madiun, Rabu (4/4/2018).

Sesampainya di sana, Gus Ipul berbaur dengan 1.200 karyawan. Selain menyapa, keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga melihat secara langsung tahapan-tahapan pembuatan sepatu yang bakal diekspor ini. Dimulai dari cutting material, jahit (stiching) hingga finishing.

Pimpinan HRD setempat, Armosa Pasaribu menyebutkan, produksi sepatunya ini kebanyakan diekspor ke kawasan Eropa. Dimulai dari Jerman, Italia, Belanda, Prancis dan Australia. "Seharinya kurang lebih produksi 1.500 - 2.500 sepatu," katanya.

Ditanya bahan bakunya sendiri, Armosa mengaku tidak ada masalah. Hanya saja, ia mengakui untuk asal kulitnya, datang dari dalam negeri 60 persen, dari luar negeri 40 persen. "Rasio ini, sudah susah payah kami pertahankan. Masalahnya, kulit dari dalam negeti ini punya kapasitasnya sendiri. Kalau dipaksa ditingkatkan, akan berpengaruh di harganya, yang tidak bisa bersaing di pasaran, khusunya mancanegara," jelasnya.



Armosa mengaku, pemerintah belum maksimal membantu melalui kebijakan yang pro-eksportir dari pengusaha lokal. Terutama dalam masalah pajak ekspor dan impor. "Industri sepatu merupakan industri padat karya. Seharusnya dalam memperlakukan pelaku industri yang menyerap tenaga kerja banyak ini, menyediakan kemudahan-kemudahan yang mendukung," tambahnya.

Sementara itu Gus Ipul berkomitmen mendukung dan menjaga perusahaan-perusahaan yang membuka pasar ekspor di tingkat internasional seperti produsen sepatu ini. Karena tidak hanya padat karya tapi juga padat teknologi. "Ini merupakan investasi yang harus kita jaga," kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini.

Harapan Gus Ipul, banyak daerah lainnya, bakal tumbuh pusat-pusat ekonomi berbasis kearifan lokal yang juga menyerap tenaga kerja setempat.

Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno telah meluncurkan program 'Tebar Jala'. Selain mendorong terselesaikannya Jalan Lintas Pantai Selatan (Pansela), keduanya juga mendorong terwujudnya pusat-pusat ekonomi di kawasan Jatim bagian selatan ini.


Sumber : https://www.liputan6.com/

Share:

Industri Rokok Ikut Terdampak Pandemi


 

KBRN, Madiun: Pandemi virus corona (Covid-19) turut memberikan dampak cukup signifikan bagi industri rokok, khususnya terkait aktivitas produksi dan penjualan produk rokok. Seperti yang dialami Pabrik Rokok Tebu atau Rokok Klobot di Jalan Panglima Sudirman, Kota Madiun.

Pemilik Pabrik Rokok Klobot, Aman Winarto mengatakan, sejak pandemi melanda hampir satu tahun ini, jumlah produksi menurun drastis. Jika sebelum pandemi satu karyawan ditargetkan mampu memproduksi rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) 1.500 batang, kini dibatasi hanya 1.000 batang per hari. Sedangkan karyawan yang ia miliki saat ini berjumlah 35 orang.

Meski begitu ia tidak merubah harga rokok klobot. Setiap bal berisi 400 pack rokok klobot dibandrol Rp1.280.000 atau sehargar Rp3.200-3.500 per bungkus.

“Terus terang saja produksinya menurun, nggak seperti sebelumnya. Namanya rokok klobot ya begini. Yang penting kan setiap hari karyawan saya bekerja. Pasarannya yang laku itu daerah Ngawi dan Kabupaten Madiun. Rokok itu kan tergantung selera ya, jadi kalau kita mengikuti selera yang tepat dan yang cocok dengan pembeli ya sulit,” kata Aman, Kamis (4/2/2021).

Seorang karyawan pabrik rokok Klobot Madiun, Sulasmi mengaku sudah lebih 20 tahun bekerja memproduksi rokok. Perempuan asal Kota Madiun ini mengaku tidak ada pilihan lain untuk membantu perekonomian keluarga. Apalagi usia yang tidak lagi muda menjadi salah satu alasan ia enggan beralih pekerjaan.

“Per orang itu jatahnya 1.000 batang per hari. Ini borongan sistemnya. Kalau peminat ramai ya banyak produksinya, per orang bisa 2.000 batang per hari,” kata dia.

Sulasmi menjelaskan, pendapatan yang ia peroleh pun tidak berubah meski terjadi wabah corona. Jika sehari menghasilkan 1.000 batang rokok, pendapatan yang ia dan karyawan lainnya peroleh sekitar Rp42.500. Penghasilan itu pun tidak setiap hari diterima, melainkan setiap tiga hari sekali.


Sumber : https://rri.co.id/

Share:

Pabrik Gula Peninggalan Masa Kolonial

 


Pabrik Gula Rejo Agung adalah salah satu pabrik gula yang berdiri dan masih aktif di Kota Madiun Jawa Timur. Pabrik gula ini terletak tidak jauh dari Stasiun Besar Madiun. Sejarah awal pabrik gula ini dimulai pada tahun 1894. Sebagai salah satu anak perusahaan dari NV HANDEL MT. KIAN GWAN yang kemudian berubah menjadi OEI TIONG HAM CONCERN sebagai induk perusahaan dengan status kepemilikan swasta. Saat awal didirikan, pabrik ini hanya memiliki kapasitas produksi sebesar 2000 TCD dengan sistem pemurnia karbonatasi rangkap De Haand.
            Pada tahun 1961 seluruh perusahaan OEI TIONG HAM CONCERN dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia yang selanjutnya operasionalnya berada dibawah pengawasan Menteri/ Jaksa Agung RI. Pada tahun 1963 seluruh asset perusahaan eks OTHC diserahkan kepada Menteri Urusan Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan (P3) atau sekarang Kementerian Keuangan RI.
            Selang satu tahun pada tahun 1964 Departemen Keuangan membentuk perusahaan bernama PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia dengan status BUMN dengan tugas melanjutkan aktifitas usaha eks OTHC. Pada tahun 2008 kapasitas produksi PG Rejo Agung ditingkatkan menjadi 4500 TCD dan sistem pemurnian diubah menjadi Sulfitasi. Hingga kini PG Rejo Agung memiliki kapasitas produksi sebesar 6000 TCD.
            Disekitaran komplek pabrik, masih banyak dijumpai bekas rumah dinas milik karyawan pabrik yang hampir sebagian besar kosong. Pabrik ini sekarang tidak menggunakan kereta lori sebagai aktivitas angkutan tebunya, sehingga jalur lori dan emplasemen kereta lori disebelah barat pabrik telah ditutup. Dahulu pabrik ini juga terhubung dengan Stasiun Besar Madiun guna mendukung aktivitas operasional pabrik. Akan tetapi sayang bekas jalur tersebut sekarang hanya bersisa hingga ke depo milik Pertamina saja.

Share:

Industri Kereta Api Dalam Negeri Yang Mendunia

 

Sebagian orang mungkin masih asing dengan nama PT Industri Kereta Api (persero) atau yang lebih dikenal dengan nama PT INKA. INKA merupakan salah satu Badan usaha Milik Negara (BUMN) yang lahir pada 18 Mei 1981. 

BUMN ini bergerak di bidang penyedia jasa layanan transportasi ini merupakan generasi penerus dari Balai Yasa Lokomotif Uap milik PT KAI. Namun, keberadaan kereta uap sudah tidak dibutuhkan lagi, sehingga akhirnya Balai Yasa Lokomotif Uap difungsikan sebagai pabrik kereta api dan namanya berubah menjadi PT INKA.

Kantor pusat PT INKA (Persero) berdiri di kawasan Jalan Yos Sudarso, Madiun, Jawa Timur. Keberadaan kantor pusat dan sekaligus pabrik kereta api yang dulu merupakan Balai Yasa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) di atas lahan seluas 22,5 hektar itu menjadi saksi sejarah perjalanan panjang PT INKA (Persero) yang merupakan BUMN manufaktur sarana perkereta-apian pertama dan terbesar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) ini. 

Selain di Madiun, untuk mendekatkan diri dengan para pemangku jabatan (stakeholders) dan pengambil kebijakan, langkah PT INKA (Persero) pun ditopang oleh Kantor Perwakilan yang berada di Jakarta. Agar selalu dekat dengan pelanggan utama yang sekaligus "saudara tuanya", yakni PJKA yang kini menjadi PT Kereta Api (Persero), INKA didukung pula oleh kantor Perwakilan di Bandung, Jawa Barat.

Perusahaan plat merah ini berdiri pada tanggal 18 Mei 1981. Selanjutnya dilakukan penyerahan operasional pabrik kereta api oleh pihak PJKA kepada manajemen PT INKA (Persero) pada tanggal 29 Agustus 1981. Tanggal inilah yang kemudian dicatat sebagai Hari Kelahiran PT INKA (Persero).

Ketika berdiri, PT INKA (Persero) berada dalam pembinaan teknis Departemen Perhubungan. Tahun 1983, pembinanya dilakukan oleh Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS). Tahun 1989, di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS). Tahun 1998, pengelolaannya di bawah Menteri Pendayagunaan BUMN. 

Kualitas INKA dalam industri kereta api sudah tidak perlu diragukan lagi. Sejak 1996, banyak negara lain yang berminat pada produksi INKA. Contohnya adalah PT INKA merakit lokomotif pertamanya (GE Lokindo) pada tahun 1996, hebatnya lagi, produksi tersebut langsung diekspor ke Filipina. 

Tidak butuh lama bagi perseroan untuk mengepakkan sayap bisnisnya. Dua tahun berselang, mereka melakukan ekspor kereta ke Thailand. INKA mengekspor Ballast Hopper Wagon, yaitu jenis gerbong barang yang digunakan untuk mengangkut komoditas curah lepas seperti batubara, biji-bijian, dan lain-lain.

PT INKA juga memenangkan lelang pengadaan kereta penumpang untuk Bangladesh Railway pada 2017 dengan total kontrak senilai US$ 100,89 Juta. 

Sumber : https://www.idntimes.com/

Share:

Label

Pengikut