Sabtu, 25 September 2021
Strategi Pemkot Madiun Kembangkan UMKM
Ini Dia Anak Perusahaan PT INKA
PT INKA (Persero) mendirikan dua anak perusahaan yaitu PT INKA Multi Solusi dan PT Rekaindo Global Jasa
PT INKA Multi Solusi merupakan anak perusahaan PT INKA (Persero) yang menyediakan jasa “Total Solution Provider” di bidang konstruksi dan perdagangan komponen/suku cadang perkeretaapian dan produk transportasi darat yang beralamat di Jalan Surabaya-Madiun KM 161 Nomor 1 Madiun, Jawa Timur. PT INKA Multi Solusi berdiri pada 23 Desember 2009 dengan nama PT Railindo Global Karya. Pada 28 November 2014, PT INKA (Persero) mengakusisi saham dan perseroan berganti nama menjadi PT INKA Multi Solusi. Pergantian Nama tersebut dituangkan dalam Akta Notaris Iswi Artati, S.H., Nomor 21 tanggal 18 Februari 2015 dan disahkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0003053.AH.01.02.TAHUN 2015 tanggal 26 Februari 2015.
Kepemilikan Saham PT INKA (Persero) 99,86% dan sisanya Yayasan Keluarga Besar INKA sebesar 0,14%. Kompetensi bisnis yang dimiliki yaitu perdagangan komponen gerbong kereta api, jasa penunjang kereta, jasa fabrikasi, jasa pemasangan, jasa rekayasa (engineering), membuat desain dan melakukan perawatan produk di bidang perkeretaapian serta penyedia jasa tenaga kerja/buruh. Dengan susunan Dewan Komisaris dan Direksi adalah sebagai berikut :
| Dewan Komisaris | ||
| Komisaris Utama | : | Haris Munandar |
| Komisaris | : | Andi Budiman |
| Bimo Wijayanto | ||
| Dadan Tri Yudianto | ||
| Direksi | ||
| Direktur Utama | : | Ketut Astika |
| Direktur Keuangan & SDM | : | Heru Sulistiyo |
| Direktur Produksi | : | Agung Budiono |
| Direktur Teknologi | : | Tri Hardono |

PT Rekaindo Global Jasa berdiri sejak 1998, berdasarkan Akta Notaris Sutjipto, SH No. 61 tanggal 25 November 1998. Status beroperasi mulai tahun 1999. Kepemilikan Saham : PT INKA (Persero) 49 %, Nippon Sharyo 39 %, Sumitomo Corporation 10 %, dan sisanya dimiliki oleh Kopinka sebesar 2%. Alamat kantor di Jalan Sumber Karya No. 2 Madiun, Jawa Timur. Kompetensi bisnis yang dimiliki yaitu di bidang jasa konsultan engineering, desain, dan maintenance perkeretaapian. Dengan susunan Dewan Komisaris dan Direksi di tahun 2015 adalah sebagai berikut :
| Dewan Komisaris | |||
| Komisaris Utama | : | Jepri | |
| Komisaris | : | I Gede Agus Prayatna | |
| Masato Yamada | |||
| Direksi | |||
| Direktur Utama | : | M. Fatoni | |
| Direktur Keuangan & SDM | : | A. Wishnudartha Pagehgiri | |
| Komisaris Direktur Teknologi Operasi | : | Bambang Jatmika | |
| Direktur | : | Yuji Kani | |
| Michitaka Kojiro | |||
| Eita Fujikawa | |||
Gus Ipul Kunjungi Pabrik Sepatu Di Madiun
Usai mengunjungi sentra pembuatan makanan khas brem, Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga bersafari ke perusahaan pembuatan sepatu perempuan di PT Karya Mitra Budi Sentosa, Caruban, Madiun, Rabu (4/4/2018).
Sesampainya di sana, Gus Ipul berbaur dengan 1.200 karyawan. Selain menyapa, keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga melihat secara langsung tahapan-tahapan pembuatan sepatu yang bakal diekspor ini. Dimulai dari cutting material, jahit (stiching) hingga finishing.
Pimpinan HRD setempat, Armosa Pasaribu menyebutkan, produksi sepatunya ini kebanyakan diekspor ke kawasan Eropa. Dimulai dari Jerman, Italia, Belanda, Prancis dan Australia. "Seharinya kurang lebih produksi 1.500 - 2.500 sepatu," katanya.
Ditanya bahan bakunya sendiri, Armosa mengaku tidak ada masalah. Hanya saja, ia mengakui untuk asal kulitnya, datang dari dalam negeri 60 persen, dari luar negeri 40 persen. "Rasio ini, sudah susah payah kami pertahankan. Masalahnya, kulit dari dalam negeti ini punya kapasitasnya sendiri. Kalau dipaksa ditingkatkan, akan berpengaruh di harganya, yang tidak bisa bersaing di pasaran, khusunya mancanegara," jelasnya.
Armosa mengaku, pemerintah belum maksimal membantu melalui kebijakan yang pro-eksportir dari pengusaha lokal. Terutama dalam masalah pajak ekspor dan impor. "Industri sepatu merupakan industri padat karya. Seharusnya dalam memperlakukan pelaku industri yang menyerap tenaga kerja banyak ini, menyediakan kemudahan-kemudahan yang mendukung," tambahnya.
Sementara itu Gus Ipul berkomitmen mendukung dan menjaga perusahaan-perusahaan yang membuka pasar ekspor di tingkat internasional seperti produsen sepatu ini. Karena tidak hanya padat karya tapi juga padat teknologi. "Ini merupakan investasi yang harus kita jaga," kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini.
Harapan Gus Ipul, banyak daerah lainnya, bakal tumbuh pusat-pusat ekonomi berbasis kearifan lokal yang juga menyerap tenaga kerja setempat.
Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno telah meluncurkan program 'Tebar Jala'. Selain mendorong terselesaikannya Jalan Lintas Pantai Selatan (Pansela), keduanya juga mendorong terwujudnya pusat-pusat ekonomi di kawasan Jatim bagian selatan ini.
Sumber : https://www.liputan6.com/
Industri Rokok Ikut Terdampak Pandemi
KBRN, Madiun: Pandemi virus corona (Covid-19) turut memberikan dampak cukup signifikan bagi industri rokok, khususnya terkait aktivitas produksi dan penjualan produk rokok. Seperti yang dialami Pabrik Rokok Tebu atau Rokok Klobot di Jalan Panglima Sudirman, Kota Madiun.
Pemilik Pabrik Rokok Klobot, Aman Winarto mengatakan, sejak pandemi melanda hampir satu tahun ini, jumlah produksi menurun drastis. Jika sebelum pandemi satu karyawan ditargetkan mampu memproduksi rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) 1.500 batang, kini dibatasi hanya 1.000 batang per hari. Sedangkan karyawan yang ia miliki saat ini berjumlah 35 orang.
Meski begitu ia tidak merubah harga rokok klobot. Setiap bal berisi 400 pack rokok klobot dibandrol Rp1.280.000 atau sehargar Rp3.200-3.500 per bungkus.
“Terus terang saja produksinya menurun, nggak seperti sebelumnya. Namanya rokok klobot ya begini. Yang penting kan setiap hari karyawan saya bekerja. Pasarannya yang laku itu daerah Ngawi dan Kabupaten Madiun. Rokok itu kan tergantung selera ya, jadi kalau kita mengikuti selera yang tepat dan yang cocok dengan pembeli ya sulit,” kata Aman, Kamis (4/2/2021).
Seorang karyawan pabrik rokok Klobot Madiun, Sulasmi mengaku sudah lebih 20 tahun bekerja memproduksi rokok. Perempuan asal Kota Madiun ini mengaku tidak ada pilihan lain untuk membantu perekonomian keluarga. Apalagi usia yang tidak lagi muda menjadi salah satu alasan ia enggan beralih pekerjaan.
“Per orang itu jatahnya 1.000 batang per hari. Ini borongan sistemnya. Kalau peminat ramai ya banyak produksinya, per orang bisa 2.000 batang per hari,” kata dia.
Sulasmi menjelaskan, pendapatan yang ia peroleh pun tidak berubah meski terjadi wabah corona. Jika sehari menghasilkan 1.000 batang rokok, pendapatan yang ia dan karyawan lainnya peroleh sekitar Rp42.500. Penghasilan itu pun tidak setiap hari diterima, melainkan setiap tiga hari sekali.
Sumber : https://rri.co.id/
Pabrik Gula Peninggalan Masa Kolonial
Industri Kereta Api Dalam Negeri Yang Mendunia
Sebagian orang mungkin masih asing dengan nama PT Industri Kereta Api (persero) atau yang lebih dikenal dengan nama PT INKA. INKA merupakan salah satu Badan usaha Milik Negara (BUMN) yang lahir pada 18 Mei 1981.
BUMN ini bergerak di bidang penyedia jasa layanan transportasi ini merupakan generasi penerus dari Balai Yasa Lokomotif Uap milik PT KAI. Namun, keberadaan kereta uap sudah tidak dibutuhkan lagi, sehingga akhirnya Balai Yasa Lokomotif Uap difungsikan sebagai pabrik kereta api dan namanya berubah menjadi PT INKA.
Kantor pusat PT INKA (Persero) berdiri di kawasan Jalan Yos Sudarso, Madiun, Jawa Timur. Keberadaan kantor pusat dan sekaligus pabrik kereta api yang dulu merupakan Balai Yasa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) di atas lahan seluas 22,5 hektar itu menjadi saksi sejarah perjalanan panjang PT INKA (Persero) yang merupakan BUMN manufaktur sarana perkereta-apian pertama dan terbesar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) ini.
Selain di Madiun, untuk mendekatkan diri dengan para pemangku jabatan (stakeholders) dan pengambil kebijakan, langkah PT INKA (Persero) pun ditopang oleh Kantor Perwakilan yang berada di Jakarta. Agar selalu dekat dengan pelanggan utama yang sekaligus "saudara tuanya", yakni PJKA yang kini menjadi PT Kereta Api (Persero), INKA didukung pula oleh kantor Perwakilan di Bandung, Jawa Barat.
Perusahaan plat merah ini berdiri pada tanggal 18 Mei 1981. Selanjutnya dilakukan penyerahan operasional pabrik kereta api oleh pihak PJKA kepada manajemen PT INKA (Persero) pada tanggal 29 Agustus 1981. Tanggal inilah yang kemudian dicatat sebagai Hari Kelahiran PT INKA (Persero).
Ketika berdiri, PT INKA (Persero) berada dalam pembinaan teknis Departemen Perhubungan. Tahun 1983, pembinanya dilakukan oleh Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS). Tahun 1989, di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS). Tahun 1998, pengelolaannya di bawah Menteri Pendayagunaan BUMN.
Kualitas INKA dalam industri kereta api sudah tidak perlu diragukan lagi. Sejak 1996, banyak negara lain yang berminat pada produksi INKA. Contohnya adalah PT INKA merakit lokomotif pertamanya (GE Lokindo) pada tahun 1996, hebatnya lagi, produksi tersebut langsung diekspor ke Filipina.
Tidak butuh lama bagi perseroan untuk mengepakkan sayap bisnisnya. Dua tahun berselang, mereka melakukan ekspor kereta ke Thailand. INKA mengekspor Ballast Hopper Wagon, yaitu jenis gerbong barang yang digunakan untuk mengangkut komoditas curah lepas seperti batubara, biji-bijian, dan lain-lain.
PT INKA juga memenangkan lelang pengadaan kereta penumpang untuk Bangladesh Railway pada 2017 dengan total kontrak senilai US$ 100,89 Juta.
Sumber : https://www.idntimes.com/

















