Sabtu, 25 September 2021

Gus Ipul Kunjungi Pabrik Sepatu Di Madiun

 


Usai mengunjungi sentra pembuatan makanan khas brem, Calon Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) juga bersafari ke perusahaan pembuatan sepatu perempuan di PT Karya Mitra Budi Sentosa, Caruban, Madiun, Rabu (4/4/2018).

Sesampainya di sana, Gus Ipul berbaur dengan 1.200 karyawan. Selain menyapa, keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini juga melihat secara langsung tahapan-tahapan pembuatan sepatu yang bakal diekspor ini. Dimulai dari cutting material, jahit (stiching) hingga finishing.

Pimpinan HRD setempat, Armosa Pasaribu menyebutkan, produksi sepatunya ini kebanyakan diekspor ke kawasan Eropa. Dimulai dari Jerman, Italia, Belanda, Prancis dan Australia. "Seharinya kurang lebih produksi 1.500 - 2.500 sepatu," katanya.

Ditanya bahan bakunya sendiri, Armosa mengaku tidak ada masalah. Hanya saja, ia mengakui untuk asal kulitnya, datang dari dalam negeri 60 persen, dari luar negeri 40 persen. "Rasio ini, sudah susah payah kami pertahankan. Masalahnya, kulit dari dalam negeti ini punya kapasitasnya sendiri. Kalau dipaksa ditingkatkan, akan berpengaruh di harganya, yang tidak bisa bersaing di pasaran, khusunya mancanegara," jelasnya.



Armosa mengaku, pemerintah belum maksimal membantu melalui kebijakan yang pro-eksportir dari pengusaha lokal. Terutama dalam masalah pajak ekspor dan impor. "Industri sepatu merupakan industri padat karya. Seharusnya dalam memperlakukan pelaku industri yang menyerap tenaga kerja banyak ini, menyediakan kemudahan-kemudahan yang mendukung," tambahnya.

Sementara itu Gus Ipul berkomitmen mendukung dan menjaga perusahaan-perusahaan yang membuka pasar ekspor di tingkat internasional seperti produsen sepatu ini. Karena tidak hanya padat karya tapi juga padat teknologi. "Ini merupakan investasi yang harus kita jaga," kata mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal ini.

Harapan Gus Ipul, banyak daerah lainnya, bakal tumbuh pusat-pusat ekonomi berbasis kearifan lokal yang juga menyerap tenaga kerja setempat.

Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno telah meluncurkan program 'Tebar Jala'. Selain mendorong terselesaikannya Jalan Lintas Pantai Selatan (Pansela), keduanya juga mendorong terwujudnya pusat-pusat ekonomi di kawasan Jatim bagian selatan ini.


Sumber : https://www.liputan6.com/

Share:

Industri Rokok Ikut Terdampak Pandemi


 

KBRN, Madiun: Pandemi virus corona (Covid-19) turut memberikan dampak cukup signifikan bagi industri rokok, khususnya terkait aktivitas produksi dan penjualan produk rokok. Seperti yang dialami Pabrik Rokok Tebu atau Rokok Klobot di Jalan Panglima Sudirman, Kota Madiun.

Pemilik Pabrik Rokok Klobot, Aman Winarto mengatakan, sejak pandemi melanda hampir satu tahun ini, jumlah produksi menurun drastis. Jika sebelum pandemi satu karyawan ditargetkan mampu memproduksi rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT) 1.500 batang, kini dibatasi hanya 1.000 batang per hari. Sedangkan karyawan yang ia miliki saat ini berjumlah 35 orang.

Meski begitu ia tidak merubah harga rokok klobot. Setiap bal berisi 400 pack rokok klobot dibandrol Rp1.280.000 atau sehargar Rp3.200-3.500 per bungkus.

“Terus terang saja produksinya menurun, nggak seperti sebelumnya. Namanya rokok klobot ya begini. Yang penting kan setiap hari karyawan saya bekerja. Pasarannya yang laku itu daerah Ngawi dan Kabupaten Madiun. Rokok itu kan tergantung selera ya, jadi kalau kita mengikuti selera yang tepat dan yang cocok dengan pembeli ya sulit,” kata Aman, Kamis (4/2/2021).

Seorang karyawan pabrik rokok Klobot Madiun, Sulasmi mengaku sudah lebih 20 tahun bekerja memproduksi rokok. Perempuan asal Kota Madiun ini mengaku tidak ada pilihan lain untuk membantu perekonomian keluarga. Apalagi usia yang tidak lagi muda menjadi salah satu alasan ia enggan beralih pekerjaan.

“Per orang itu jatahnya 1.000 batang per hari. Ini borongan sistemnya. Kalau peminat ramai ya banyak produksinya, per orang bisa 2.000 batang per hari,” kata dia.

Sulasmi menjelaskan, pendapatan yang ia peroleh pun tidak berubah meski terjadi wabah corona. Jika sehari menghasilkan 1.000 batang rokok, pendapatan yang ia dan karyawan lainnya peroleh sekitar Rp42.500. Penghasilan itu pun tidak setiap hari diterima, melainkan setiap tiga hari sekali.


Sumber : https://rri.co.id/

Share:

Pabrik Gula Peninggalan Masa Kolonial

 


Pabrik Gula Rejo Agung adalah salah satu pabrik gula yang berdiri dan masih aktif di Kota Madiun Jawa Timur. Pabrik gula ini terletak tidak jauh dari Stasiun Besar Madiun. Sejarah awal pabrik gula ini dimulai pada tahun 1894. Sebagai salah satu anak perusahaan dari NV HANDEL MT. KIAN GWAN yang kemudian berubah menjadi OEI TIONG HAM CONCERN sebagai induk perusahaan dengan status kepemilikan swasta. Saat awal didirikan, pabrik ini hanya memiliki kapasitas produksi sebesar 2000 TCD dengan sistem pemurnia karbonatasi rangkap De Haand.
            Pada tahun 1961 seluruh perusahaan OEI TIONG HAM CONCERN dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia yang selanjutnya operasionalnya berada dibawah pengawasan Menteri/ Jaksa Agung RI. Pada tahun 1963 seluruh asset perusahaan eks OTHC diserahkan kepada Menteri Urusan Pendapatan Pembiayaan dan Pengawasan (P3) atau sekarang Kementerian Keuangan RI.
            Selang satu tahun pada tahun 1964 Departemen Keuangan membentuk perusahaan bernama PT Perusahaan Perkembangan Ekonomi Nasional (PPEN) Rajawali Nusantara Indonesia dengan status BUMN dengan tugas melanjutkan aktifitas usaha eks OTHC. Pada tahun 2008 kapasitas produksi PG Rejo Agung ditingkatkan menjadi 4500 TCD dan sistem pemurnian diubah menjadi Sulfitasi. Hingga kini PG Rejo Agung memiliki kapasitas produksi sebesar 6000 TCD.
            Disekitaran komplek pabrik, masih banyak dijumpai bekas rumah dinas milik karyawan pabrik yang hampir sebagian besar kosong. Pabrik ini sekarang tidak menggunakan kereta lori sebagai aktivitas angkutan tebunya, sehingga jalur lori dan emplasemen kereta lori disebelah barat pabrik telah ditutup. Dahulu pabrik ini juga terhubung dengan Stasiun Besar Madiun guna mendukung aktivitas operasional pabrik. Akan tetapi sayang bekas jalur tersebut sekarang hanya bersisa hingga ke depo milik Pertamina saja.

Share:

Industri Kereta Api Dalam Negeri Yang Mendunia

 

Sebagian orang mungkin masih asing dengan nama PT Industri Kereta Api (persero) atau yang lebih dikenal dengan nama PT INKA. INKA merupakan salah satu Badan usaha Milik Negara (BUMN) yang lahir pada 18 Mei 1981. 

BUMN ini bergerak di bidang penyedia jasa layanan transportasi ini merupakan generasi penerus dari Balai Yasa Lokomotif Uap milik PT KAI. Namun, keberadaan kereta uap sudah tidak dibutuhkan lagi, sehingga akhirnya Balai Yasa Lokomotif Uap difungsikan sebagai pabrik kereta api dan namanya berubah menjadi PT INKA.

Kantor pusat PT INKA (Persero) berdiri di kawasan Jalan Yos Sudarso, Madiun, Jawa Timur. Keberadaan kantor pusat dan sekaligus pabrik kereta api yang dulu merupakan Balai Yasa Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) di atas lahan seluas 22,5 hektar itu menjadi saksi sejarah perjalanan panjang PT INKA (Persero) yang merupakan BUMN manufaktur sarana perkereta-apian pertama dan terbesar di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) ini. 

Selain di Madiun, untuk mendekatkan diri dengan para pemangku jabatan (stakeholders) dan pengambil kebijakan, langkah PT INKA (Persero) pun ditopang oleh Kantor Perwakilan yang berada di Jakarta. Agar selalu dekat dengan pelanggan utama yang sekaligus "saudara tuanya", yakni PJKA yang kini menjadi PT Kereta Api (Persero), INKA didukung pula oleh kantor Perwakilan di Bandung, Jawa Barat.

Perusahaan plat merah ini berdiri pada tanggal 18 Mei 1981. Selanjutnya dilakukan penyerahan operasional pabrik kereta api oleh pihak PJKA kepada manajemen PT INKA (Persero) pada tanggal 29 Agustus 1981. Tanggal inilah yang kemudian dicatat sebagai Hari Kelahiran PT INKA (Persero).

Ketika berdiri, PT INKA (Persero) berada dalam pembinaan teknis Departemen Perhubungan. Tahun 1983, pembinanya dilakukan oleh Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS). Tahun 1989, di bawah Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS). Tahun 1998, pengelolaannya di bawah Menteri Pendayagunaan BUMN. 

Kualitas INKA dalam industri kereta api sudah tidak perlu diragukan lagi. Sejak 1996, banyak negara lain yang berminat pada produksi INKA. Contohnya adalah PT INKA merakit lokomotif pertamanya (GE Lokindo) pada tahun 1996, hebatnya lagi, produksi tersebut langsung diekspor ke Filipina. 

Tidak butuh lama bagi perseroan untuk mengepakkan sayap bisnisnya. Dua tahun berselang, mereka melakukan ekspor kereta ke Thailand. INKA mengekspor Ballast Hopper Wagon, yaitu jenis gerbong barang yang digunakan untuk mengangkut komoditas curah lepas seperti batubara, biji-bijian, dan lain-lain.

PT INKA juga memenangkan lelang pengadaan kereta penumpang untuk Bangladesh Railway pada 2017 dengan total kontrak senilai US$ 100,89 Juta. 

Sumber : https://www.idntimes.com/

Share:

Wisata Nan Rindang Di Kota Madiun

 

Puluhan pohon trembesi berusia sekitar 100 tahun menjulang tinggi di Taman Trembesi yang berlokasi di komplek kantor Perhutani KPH Madiun, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.

Pohon trembesi yang berdiameter sekitar 1 meter dengan ketinggian sekitar 50 meter dengan dahan yang dipenuhi daun lebat membuat lokasi taman menjadi rindang dan sejuk.

Ratusan potong batang pohon trembesi dan lainnya juga tertata rapi di tempat penyimpanan kayu seluas 4,2 hektare itu. Saat ini, tempat penyimpanan kayu milik Perhutani tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan kayu, melainkan juga menjadi lokasi wisata yang diberi nama Taman Trembesi.

Lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Madiun, yaitu di kompleks kantor Perhutani KPH Madiun Jl. Diponegoro, Kecamatan Kartoharjo.

Lahan seluas 4,2 hektare itu masih digunakan sebagaimana fungsinya yaitu sebagai perkantoran Perhutani dan tempat penyimpanan kayu. Sedangkan sebagian lahannya diubah fungsi menjadi taman wisata.

Awal ide pembukaan Taman Trembesi yang baru dibuka pada Senin (26/6/2017) itu melihat antusiasme masyarakat yang sangat menyukai wisata alam. Selanjutnya sebagian lahan yang selama ini memang tidak difungsikan disulap menjadi taman.

Kasi Perencanaan dan Pengembangan Bisnis Perhutani KPH Madiun, Eka Cahyadi, mengatakan ada sekitar 2.000 meter persegi lahan yang dimanfaatkan untuk Taman Trembesi. Taman wisata ini mengambil tema taman wisata keluarga. Di lokasi taman juga diberi tempat duduk memanjang dari kayu balok.

Ada beberapa tempat duduk disediakan di taman itu. Selain tempat berkumpul di bawah rindangnya pohon trembesi, aneka permainan juga disediakan pengelola taman. Antara lain flying fox sepanjang 70 meter, panahan, paintball, mobil ATV, dan minitrail.

Harga tiket masuk ke Taman Trembesi cukup terjangkau, kata dia, yaitu senilai Rp2.500/orang. Sedangkan tarif berbagai permainan yaitu mulai dari Rp15.000/orang hingga Rp25.000/orang.

“Jadi selain bisa berkumpul keluarga di bawah pohon trembesi, juga bisa bermain berbagai permainan yang telah disediakan,” ujar dia, Rabu (5/7/2017).

Pengunjung juga bisa berfoto selfie dan berfoto bersama di spot foto yang telah disediakan. Selain itu, yang menarik pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang tumpukan kayu yang ditata secara apik di lokasi wisata.

Jika tidak ingin kelelahan mengelilingi tempat penampungan kayu itu, kata dia, pengunjung bisa memanfaatkan mobil ATV dengan tarif Rp25.000/orang. Pengunjung sudah bisa berkeliling di tempat penyimpanan kayu dengan seru.

Saat pengunjung merasa kehausan bisa membeli minuman dan makanan di kedai yang ada di taman tersebut. “Taman ini kan memang baru dibuka, tentu masih banyak kekurangan fasilitas yang disediakan pengelola. Tetapi ke depannya akan diperbaiki dan ditambahi fasilitasnya,” jelas dia.

Taman Trembesi dikelola secara langsung oleh petugas Perhutani KPH Madiun. Pihaknya mengaku telah mengurus perizinan mengenai pembukaan tempat wisata ini kepada pemerintah setempat.

Meski baru dibuka, pengunjung Taman Trembesi ini cukup banyak. Pada hari pertama dibuka, sekitar 800 orang dari berbagai daerah berkunjung ke taman wisata ini.

Sumber : https://www.solopos.com/


Share:

Pahlawan Street Center Untuk Pengambangan UMKM


 

Wisata Pahlawan Street Center (PSC) Kota Madiun diprogramkan menjadi pusat perbelanjaan. Dalam program tersebut, Walikota Madiun Maidi mengutamakan usaha mikro kecil menengah (UMKM) dari Kota Madiun untuk menempati lokasi berjualan yang telah disediakan.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kota Madiun, Suwarno mengatakan bahwa pembangunan wisata PSC merupakan wadah untuk UMKM Kota Madiun. Harapannya ketika UMKM berkembang, maka kesejahteraan meningkat.

“Pahlawan Street Center merupakan visi – misi Pak Wali untuk menjadikan Jalan Pahlawan pusat perbelanjaan sekaligus pengembangan UMKM yang ada di Kota Madiun,” jelas Suwarno saat dihubungi Lenteratoday, Sabtu (02/01/2021) siang.

PSC memiliki 2 Taman, yakni Taman Sumber Wangi dan Taman Sumber Umis. Pada masing-masing taman tersebut telah disediakan lapak untuk UMKM Kota Madiun. Di taman tersebut juga ada galeri yang menyediakan souvenir pernak-pernik terkait PSC. Pemilik UMKM akan diberikan pelatihan sebelum menempati tiap-tiap lapak.

“Jadi nanti akan memberdayakan anak – anak muda untuk kuliner atau berdagang. Pelatihannya untuk menyesuaikan konsep di PSC. Nanti ada seragamnya juga, jadi tertib dan rapi,” imbuhnya.

Untuk diketahui sebelumnya, Taman Sumber Wangi dan Sumber Umis akan dibangun tujuh icon keajaiban dunia. Dalam pembangunannya, icon yang telah selesai adalah Patung Merlion (patung ikan berkepala singa) dan Mushola berbentuk Ka’bah. Dalam Taman tersebut juga akan dibangun Menara Jam Big Ben, Menara Eiffel dan Tower Zam-zam sehingga akan menjadi spot foto yang menarik.

“Saya yakin bahwa pembangunan tempat wisata yang digencarkan adalah untuk melakukan lompatan ekonomi seusai pandemi Covid-19,” jelas Suwarno menutup wawancara. 

Sumber : https://lenteratoday.com/

Share:

Ini Dia Alasan Sun City Kalah Tenar Dengan Mall Lain

 

Mall Sun City bukan satu – satunya Pusat Perbelanjaan, yang ada di Kota Madiun.
Plaza MadiunPasaraya Sri RatuTimbul Jaya Plaza, hingga Carrefour telah lebih dahulu ada untuk melengkapi kebutuhan Masyarakat Kota.
Bahkan kehadiran Plaza Madiun, yang berada di Jl. Pahlawan, tidak dapat tersaingi dalam hal tingkat kedatangan Para Pengunjung, dan Pembeli di tempat ini.

Mall yang ramai Pengunjung dengan banyaknya Tenant (Penyewa) terbaik di dalamnya adalah salah satu faktor Keberhasilan Manajemen dalam mengelolah sebuah Mall.

Mall yang dikelola dengan baik, pastinya akan selalu ramai dengan Pengunjung, yang meluangkan waktu untuk berbelanja maupun sekedar kongkow di tempat ini. Sebaliknya, jika Mall ini dirasa sepi baik itu Pengunjung maupun Penyewa (Tenant) di dalamya sudah dapat dipastikan bahwa Mall ini gagal dalam soal ManajamenEntah itu faktor Marketingnya yang tidak berhasil memasarkan Citra (Image) sebuah Mall kepada Masyarakat Luas, hingga faktor Operasional di dalamnya, yang meliputi Perawatan (Maintenance) sebuah Mall, hingga Manajemen secara keseluruhan yang berjalan tidak sesuai pada tempatnya.

Jika dilihat dari Bangunan Sun City Festival Madiun tidak ada, yang kurang. Sebagai Kompleks dengan luas 6,7 ha, dan terintegrasi oleh Mall, Hotel, Theme Park, Waterpark, dan Ruko, seharusnya Sun City Festival mampu untuk menjadikan tempat ini sebagai Kawasan Komersial TerpaduTerlebih, jika dilihat dari lengkapnya sarana, dan prasarana, yang ada.

Namun apa boleh buat Kawasan ini tampak seperti Kawasan, yang mati suri dengan beberapa Rukonya, yang dibiarkan terbengkalai Kosong, tanpa ada Penyewa, yang membuka usahanya. Begitu juga dengan Mall Sun City MadiunBahkan seiring meningkatnya Tingkat Hunian (Occupancy) di Sun Hotel, ternyata tidak diimbangi oleh tindak lanjut menyelesaikan pengerjaan Kamar Hotel untuk lantai paling atas.

Beberapa hal lain seperti Kurang bersihnya Toilet Kamar Mandi, baik di Mall maupun Hotel hingga tidak adanya Perawatan terhadap beberapa bagian Mall, yang mulai bocor menjadi bukti kurangnya Manajemen, yang baik pada Mall Sun City, maupun Sun City Festival Madiun secara keseluruhan.

Mall Sun City Madiun sepertinya masih dalam menentukan jati diri terhadap Konsep Mallnya. Konsepnya mau di bawa kemana, ataukah lebih berorientasi kepada Mall Kongkow, dengan beberapa Tempat Asyik, atau lebih menekankan kepada Tempat Belanja Terbaik, dengan beberapa Tenant Anchor Berkelasnya. Jika dibuat sebagai Mall Kongkow, dirasa juga masih terlalu sedikit Kafe maupun  Resto yang ada.

Memang di Mall Sun City Madiun terdapat Penyewa (Tenant) seperti J.COBreadtalkHouse Of WokIstana Mie dan EsHouse Of Tong Ji, yang selalu penuh dengan Para Pecinta Kuliner (FoodieSejati Madiun di setiap Akhir Pekan (Weekend) maupun Hari LiburNamun hal ini belum dapat dijadikan jaminan bahwa Mall ini merupakan Mall dengan Konsep Kongkow Terbaik di Kota Madiun, mengingat masih sedikitnya Penyewa (Tenant) Kafe maupun Resto, yang hadir di Mall ini.

Terlebih beberapa Tenant sebelumnya, yang digadang bakal jadi Tempat Favorit, akhirnya juga menutup usahanya di tempat ini. Sebut saja Ice Cream Dolar Singapore, dan Pappa Roti, yang akhirnya gagal mempertahankan Eksistensi Usahanya di Mall ini. Terlebih, jika dibuat sebagai Tempat Belanja Terbaik, pastinya Konsep ini juga tidak sesuai.

Kita juga bisa lihat dari banyaknya Tenant, yang menutup usahanya di tempat ini. Mulai dari beberapa Butik Baju, Toko Kesehatan dan Kecantikan Guardian, beberapa Toko Handphone dan Kamera, hingga yang terakhir Lotus sebagai Tenant Department Store Terbaiknya.

Bahkan ada Anggapan (Opini), yang berkembang terhadap Lotus Department Store, ketika beberapa Produk dari Brand tertentu mangkal di depan Toko, dengan Discount maupun Promo, yang tidak wajar, berarti Produk tersebut siap keluar dari Department Store ini.

Hal ini terjadi, bukan karena Produk tersebut memang sedang ada Promo maupun Discount, melainkan untuk menghabiskan Stock Sisa Produk disebabkan tidak laku jual, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menarik Produk di Department Store ini.

Hal ini Kami amati, mulai dari Produk Sepatu Kickers – RohdeSalt N Pepper, hingga terakhir Jeans West sampai akhirnya Lotus benar menutup usahanya di tempat ini. Jadi Kita dapat mengambil Kesimpulan bahwa Mall ini tidak sesuai, jika diterapkan sebagai Mall dengan Tempat Belanja Terbaik. Terlebih Pesaing (Competitor) seperti Plaza Madiun, yang selalu Eksis, dan Ramai Pengunjung dengan Tenant Matahari, Hypermart menjadi Pesaing terbesar Mall ini.




Share:

Label

Pengikut